Digital Citizenship: Mengasah Core Skill

Core Skills, dilihat dari definisi merupakan kompetensi inti. Kompetensi inti ini sangat penting karena menjadi prasyarat dari kemampuan Abad 21, yang wajib dimiliki, dan dikembangkan serta dikuasai, baik oleh guru maupun peserta didik. Seperti yang diutarakan oleh Wagner (2010) dan Change Leadership Group dari Universitas Harvard yang mengidentifikasi kompetensi dan keterampilan bertahan hidup yang dibutuhkan peserta didik dalam menghadapi tantangan kehidupan, dunia kerja, dan kewarganegaraan di abad 21, ditekankan pada 7 keterampilan berikut: 1) kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah; 2) kolaborasi dan kepemimpinan; 3) ketangkasan dan kemampuan beradaptasi; 4) inisiatif dan berjiwa entrepreneur; 5) mampu berkomunikasi efektif baik secara oral maupun tertulis; 6) mampu mengakses dan menganalisis informasi; 7) memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi.

Hal tersebut sejalan dengan Core Skills yang dikembangkan oleh British Council, yang mengasah kemampuan inti, sebagai berikut:

  1. Berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thingking and problem solving), yaitu pemikiran mandiri yang menghasilkan ide baru dan inovatif dan memecahkan masalah. Merefleksikan secara kritis pengalaman dan proses belajar dan membuat keputusan yang efektif;
  • Kolaborasi dan komunikasi (collaboration and communication), yaitu berkomunikasi dengan efektif secara lisan, tertulis, dan aktif mendengarkan orang lain di lingkungan yang beragam dalam multibahasa dan memahami komunikasi verbal dan non-verbal. Bekerja dalam berbagai tim internasional, dalam bentuk pembelajaran serta berkontribusi pada pembelajaran orang lain, dengan asumsi tanggung jawab bersama, bekerja sama, memimpin, mendelegasikan dan berkompromi untuk menghasilkan gagasan-gagasan dan solusi-solusi baru yang inovatif;
  • Kreativitas dan imajinasi (creativity and imagination), yaitu kewirausahaan secara ekonomi dan sosial, membayangkan dan mengejar gagasan- gagasan baru, menelaah nilai, mengembangkan inovasi dan rasa keingintahuan;
  • Kewarganegaraan (citizenships), yaitu kesadaran secara aktif sebagai warga global yang memiliki keterampilan, pengetahuan dan motivasi untuk menangani masalah kelestarian manusia dan lingkungan dan bekerja menuju dunia yang lebih adil dalam semangat saling menghormati dan dialog terbuka. Mengembangkan pemahaman tentang apa artinya menjadi warga negara dan nilai-nilai negara kita sendiri;
  • Kemampuan menulis dan membaca secara digital (digital literacy), yaitu kemampuan menggunakan teknologi sebagai alat untuk memperkuat, memperluas dan memperdalam pembelajaran melalui kolaborasi internasional. Mengaktifkan peserta didik untuk menemukan, menguasai dan mengomunikasikan pengetahuan dan informasi dalam ekonomi global;
  • Pengembangan kepemimpinan dan kepribadian peserta didik (student leadership and personal development), yaitu penguatan karakter kejujuran, kepemimpinan, pengaturan diri dan tanggung jawab, ketekunan, empati untuk berkontribusi terhadap keselamatan dan keuntungan orang lain, kepercayaan diri, ketahanan, kesehatan pribadi dan kesejahteraan, keterampilan karir dan kehidupan dan pembelajaran seumur hidup.

Berkenaan dengan core skills, tentunya sejalan dengan pembelajaran yang bersifat deep learning daripada pembelajaran yang bersifat surface learning. Pemaknaan pembelajaran yang bersifat deep learning, lebih ke arah pembelajaran yang berhubungan dengan tingkat berpikir kritis (Higher Order Thinking Skills – HOTS), dimana peserta didik digiring untuk melakukan tahapan berpikir kritis dalam menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Think-pair-share, merupakan salah satu metode untuk menggiring ke arah pembelajaran HOTS. Karena melalui berpikir (think), dari stimulan yang diberikan, bisa berupa grafik, gambar, visualisasi dari suatu fenomena alam/peristiwa dapat menggiring peserta didik untuk berbagi, berdiskusi bersama teman-temannya (pair, share).

Dalam membangun digital citizenship yang sudah Penulis lakukan dari tahun 2015. Betapa cepat arus informasi dengan adanya sosial media, dan penggunaan smart phone di setiap lini. Hingga, belajar pun berbasis on line, dengan pengumpulan tugas melalui kantung tugas melalui google form.

Melalui sosial media/ WAG (Whatsapp group) berimbas sangat positif baik bagi Penulis maupun bagi rekan guru-guru dalam memanfaatkan IT. Dari digital citizenship terbangun kemampuan Core Skills (Communication, Critical thinking & problem solving, Collaboration & Communication). Guru-guru secara bertahap meningkat kemampuannya menjadi digital literate, bisa berkomunikasi dan berdiskusi dengan baik walaupun secara virtual, dengan tanpa mengenal batas waktu atau pun jarak yang sangat jauh.

Artikel sudah di publish di Majalah Geliats Gemilang Dinas Pendidikan Kota Bandung Edisi 2 Bulan Oktober 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *