Karakter Anak, Tanggungjawab Siapa?

Oleh: Ridwan Firdauzi, S.Pd.

Kurikulum 2013 menuntut pendidikan yang mengutamakan karakter peserta didik. Hal ini teraplikasikan dalam Kompetensi Inti I dan Kompetensi II, yang berisi tentang Ketuhanan dan keharusan berperilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, dan lain-lain. Tak hanya pelajaran Pendidikan Agama dan Kewarganegaraan saja, akan tetapi seluruh mata pelajaran yang diajarkan harus memasukkan nilai karakter di dalamnya. Untuk itu, guru dituntut untuk dapat mendidik peserta didik menjadi “manusia seutuhnya”. Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UU Nomor 20 tahun 2003. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional tersebut difasilitasi oleh kurikulum 2013 dengan pencantuman KI-1 dan KI-2.

Lima tahun sejak diberlakukannya, kurikulum 2013 belum berjalan dengan mulus. Dilihat dari segi akademik, kurikulum 2013 masih terjadi banyak perubahan-perubahan, sehingga timbul perspektif bahwa tidak ada kekonsistenan dari pemerintah. Dari sisi lain, pendidikan yang berkarakter pun masih jauh dari harapan. Apa yang salah? Siapa yang salah? Siapa yang akan disalahkan?

Bukan tanpa alasan, pemerintah menggaungkan pendidikan berkarakter karena banyaknya keluhan dari masyarakat tentang menurunnya tata krama, etika, dan kreativitas peserta didik karena melemahnya pendidikan budaya dan karakter bangsa. Ini menjadi tantangan bagi guru zaman now, bagaimana caranya agar pada mata pelajaran yang diajarkan dapat menjadikan peserta didik yang berkarakter dan berbudaya. Di sejumlah negara maju, seperti Amerika Serikat terdapat pusat-pusat kajian pendidikan karakter. Pendidikan karakter berkembang dengan pendekatan kajian multidisipliner, yakni psikologi, filsafat, moral/etika, hukum, sastra/humaniora.

Terkait dengan tujuan pendidikan nasional, karakter merupakan cerminan dari kepribadian secara utuh dari seseorang. Menurunnya kualitas morel dalam kehidupan manusia Indonesia saat ini menuntut diselenggarakannya pendidikan karakter. Sekolah dituntut untuk memainkan peran dan tanggungjawabnya untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai yang baik. Pendidikan karakter diarahkan untuk memberikan tekanan pada nilai-nilai tertentu seperti rasa hormat, tanggungjawab, jujur, peduli, dan adil dalam kehidupan mereka sendiri. Tak hanya sekolah dan guru yang berperan dalam membenahi karakter peserta didik. Peran orangtua di rumah pun sangat membantu dalam hal ini. Bahkan porsinya harus lebih banyak dari guru di sekolah. Peserta didik berada di sekolah hanya 9 jam dalam sehari, sedangkan di rumah adalah selebihnya. Otomatis, peran orangtua dalam membentuk dan menanamkan karakter lebih besar dibandingkan dengan guru di sekolah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *