[Cerpen] Di Pinggir Rel

Oleh: Ridwan Firdauzi, S.Pd.

Tak biasanya kereta lokal itu berhenti sesaat sebelum stasiun. Kereta berhenti cukup lama. Siapa yang tak kesal. Lima orang telah siap berdiri dekat pintu depan. Mungkin mereka bermaksud untuk turun lebih awal, agar tidak ada orang yang menyalipnya. Kelihatannya mereka tergesa-gesa. Akan ke undangan pernikahan? Mungkin. Karena mereka mengenakan pakaian batik seragam. Ada tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan di sana. Begitu pula dengan seorang lelaki berseragam dinas PT. KAI, mengenakan ransel jenama ternama. Entah apa isinya, tapi tasnya seperti yang hendak kemah atau naik gunung. Tapi kok pakai seragam? Entahlah, mungkin ada tugas yang harus diselesaikannya dengan segera, setelah itu barulah ia pergi berkemah  atau naik gunung.

Kereta itu berhenti di wilayah kehidupan kaum pinggir rel. Sekaligus pasar. Kehidupan yang sungguh merdeka dan berdaulat. Kaum yang di saat kaum lainnya masih terlelap tidur, sementara mereka sudah bergerak demi sesuap nasi. Ada yang hanya tampak kaki, sementara tubuh mereka terlindung di bawah atap sangat rendah lembaran rongsok. Ada pula mereka yang tampak kakinya saja, sementara tubuh mereka terlindung papan bertuliskan “WARTEG BAHARI”. Sementara di sudut lain, seorang lelaki tua bersama anak kecil tampak seperti kelelahan. Menyimpan karung berisikan kardus di sebuah gubuk. Di dekatnya ada perempuan masih tertidur, berbatal buntalan kain melingkar di atas gelaran kardus lusuh. Perempuan itu nampak kelelahan. Entahlah, mungkin ia baru saja “lembur” malam tadi.

Laki-laki tua itu bangkit mengajak si anak menuju warung yang berjarak 3 gubuk dari gubuknya. Di tempat itu ada empat orang lelaki, yang dua berbaju lusuh, satu berpakaian rapi, dan seorang perempuan nampak sedang memesan sesuatu.

Laki-laki tua itu tak lama keluar dari warung tersebut. Tangan kanannya ia membawa dua plastik es teh, sementara tangan kirinya menuntun anak kecil yang sedari tadi terus saja ia ajak. Nampak wajah si anak menginginkan es teh yang dibawa laki-laki tua itu. Namun, lelaki tua itu tak kunjung memberikannya. Sedikit terdengar merengek, namun tetap saja es teh itu tak kunjung ia berikan.

“Pa!” seru si anak ke lelaki tua itu. Dia kelihatan sudah tidak sabar. Matanya tak henti melihat ke arah es teh yang dibawa oleh lelaki tua itu.

“Sebentar, tunggu sampai tehnya agak hangat. Ini dingin sekali, gigi kau bisa rusak.”

“Pa!” anak itu menepuk-nepuk pahanya sendiri dengan kedua telapak tangan untuk melampiaskan rasa kesalnya. Air matanya mulai mengalir melewati kedua pipinya, lalu sampai ke mulutnya.

“Pa, haus, haus!”

“Apa bilang, tunggu. Nanti gigi kau rusak.” Kata lelaki tua itu. Anaknya terisak, tetapi dia lalu bangkit berdiri. Berbalik dan menyingkap celana sendiri di bagian paha. Anak usia lima tahunan itu kencing di sebelah gubuknya.

Lelaki tua itu merasa lega, karena dengan begitu, perhatian si anak akan teralih sementara.

Nasib berkata lain, setelah itu si anak kembali merengek menginginkan es teh yang baru saja dibelinya di warung.

“Pa, haus!”

Lelaki tua itu kemudian jongkok, kemudian mendekatkan sedotan ke mulut mungil anak usia lima tahunan itu. Anak laki-laki itu hampir tersedak.

“Sabarlah! Segar?”

“Segar sekali.”

“Ayo, habiskan,” perintah lelaki tua itu sambil bangkit dan menyingkap celananya. Lelaki tua itu pun kencing di sebelah tempat si anak kencing tadi.

“Pa, aku seperti anak yang di TV-nya ibu warteg itu, kan?”

“Di TV, gimana?”

“Di TV juga ada anak minum susu, kan? Anaknya cakep. Rumahnya bagus. Bajunya bagus. Jadi sekarang aku sama seperti anak yang minum susu di TV kan?” tanya anak usia lima tahunan itu. Sejenak lelaki tua itu kelihatan terpana.

“Tapi kan kau minum es teh, bukan susu.”

“Aku kan minum es tehnya sampai habis.”

“Kenapa kau habiskan? Harusnya kau sisakan es teh itu untuk emak. Siapa tau dia pun kehausan.”

“Tapi emak masih tidur.”

“Nanti kalau bangun, emakmu pasti haus.”

“Kenapa emak suka es teh, Pa?

“Ya memang emakmu suka es teh.”

“Iya, kenapa emak suka?” Anak itu sungguh-sungguh bertanya. Kedua matanya mengatakan itu. Lelaki tua itu kelihatan malas menanggapi.

“Ke mana kau buang plastik sisa es tehmu?”

Tanpa menjawab, tangan kiri si anak menunjuk lurus ke arah kiri.

Lelaki tua itu tampak sedang merogoh saku dan mengeluarkan uang recehan, lalu kembali ke warung.

Tak lama ia kembali dengan sebungkus es teh segar di tangannya.

Si anak kembali merengek meminta es teh itu.

“Pa, pengen lagi.”

“Jangan! Ini buat emak.”

Anak kecil lima tahunan itu tampak kecewa. Ia jongkok, mengambil batu khas rel kereta api. Lalu memainkannya, melempar-lempar batu tersebut ke arah roda kereta api. Ia asyik memainkan batu-batu itu.

Tak lama, perempuan dalam gubuk itu terlihat menggeliat lalu duduk dan bertopang tangan kiri. Pagi sudah terang. Sosok perempuan itu menjadi lebih jelas. Usianya mungkin tiga puluhan. Nampaknya itu adalah anak dari lelaki tua, ibu dari anak kecil yang larut melempar-lempar batu ke arah roda kereta. Gincu dan bedak pipinya yang tebal mencerminkan bahwa ia baru saja pulang “lembur”.

“Nah, emak bangun. Emak suka es teh, kan?”

Tidak ada tanggapan. Apalagi lelaki tua itu telah mendahului mengulurkan dengan tangan kanan, kantung plastik es teh kepada anaknya yang baru bangun itu. Dan ternyata benar; perempuan itu langsung menghabiskan es teh dalam satu tegukan. Ada sepasang mata bocah yang begitu bening menatap gerak mulut emaknya yang sedang menyedot es teh. Lalu mata itu berpindah menatap wajah kakeknya.

Setelah habis, bungkus es teh itu dibuang ke arah rel kereta api. Lalu perempuan itu bangkit. Tanpa beralas kaki, ia lalu jongkok di tempat lelaki tua dan anak lelaki kencing. Pun perempuan usia tiga puluhan itu kencing. Lalu kembali bangkit, dan duduk di tempat ia tidur tadi.

“Selagi saya tidur, kalian ngeributin apa? Ngomongin saya ya?”

Lelaki tua dan si anak saling berpandangan, tersenyum lalu tertawa. Benar, tiga warga pinggir rel itu menikmati hidup yang gembira dan merdeka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *